Category Archives: Cerita Tentang Visi (Pandangan Hidup)

Selesaikan Sampai Selesai (S3)

Tanpa sadar kita sering menunda pekerjaan/tugas terutama pada hal yang kita tidak kita suka. kita menunda menjawab sms yang masuk, menunda makan, menunda tidur, menunda menelefon seseorang yang disayangi karena kesibukan pekerjaan, menunda pekerjaan karena terlalu asik bergaul, menunda dan lain-lain. Kenapa selalu menunda padahal setiap porsi pekerjaan/ tugas itu sama pentingnya sama seperti kita berhubungan dengan setiap orang yang semua adalah sama penting.

Kenapa sering menunda? Kita menunda hal tersebut bisa dipengaruhi banyak faktor, antara lain faktor kemalasan, teralihkan pada hal lain, capai, lelah, bosan, dll. Ketika kita membiasakan menunda hal-hal yang penting maka itu akan menjadi kebiasaan buruk yang mungkin sering kita ulangi dan tidak disadari.

Orang-orang pun mengacuhkan hal tersebut sampai akhirnya alam semesta yang bertindak seakan menampar orang-orang yang suka menunda pekerjaan. Beberapa hal akan terjadi misalnya karena suka menunda pekerjaan maka pekerjaan tersebut akan menumpuk dan menjadi beban berlipat.

Sebuah pepatah lama mengatakan:

The longer you wait, The worse it gets

“Jangan Tunda Sampai Esok Apa Yang Dapat Dikerjakan Hari Ini”

Saya kira pepatah itu benar-benar sesuai dengan cerita diatas, itu menjadi solusi yang sangat tepat. Saya sendiri pada waktu kemarin punya pengalaman suka menunda pekerjaan dan akhirnya tanggung jawab itu menumpuk dan saya tidak bisa menyelesaikannya pada waktunya. Hanya penyesalan pada akhirnya, namun tidak boleh larut dalam kemurungan lama2. Sekarang harus berubah, sekarang waktunya menyelesaikan satu demi satu pekerjaan kemarin yang belum selesai, sambil menentukan visi, mencapai asa dan harapan di depan yang luas.

Langkahnya dgn membuat: To Do List

Yuk, jangan tunda pekerjaan yang bisa diselesaikan saat ini, selesaikanlah sampai selesai.

Advertisements

Brand of Yourself

Sempat kepikiran suatu hal yang terfikirkan orang lain tentang diri kita.
What’s that? It’s a Brand of Yourself

Misalnya saat karaoke, bisa pilih lagu andalan yang sesuai sama karakter suara kita. jangan pas karaoke baru buat list lagu atau nyanyiin lagu sembarangan, kan ngga enak jg di telinga org lain.. (hahaha..) Mending pilih 1-2 tapi enak didenger, puas deh nyanyiinnya, apalagi kalau dipuji bagus.. makin seneng.

Contoh playlist karaoke gw:
Glenn Fredly – Tersimpan
Kahitna – Untukmu
Dygta – Cinta Sudah Terlambat
Last Child – Pedih
Ello – Andai Selamanya

Brand of Yourself lebih bagus lagi kalau kita sendiri yang buat, hasil karya kita sendiri. Setiap orang kan punya gaya sendiri yang spesifik. Misalnya Ronaldinho punya sepatu yg dibuat sesuai dengan karakter kakinya, sehingga pas sepatu itu melekat dikaki sangat mendukung performa dan tentunya dapat meningkatkan rasa percaya dirinya di lapangan sepak bola.

Misalnya desain produk dengan hak cipta merek sendiri, buat komunitas satu visi membangun bangsa. Janganlah bangga dengan produk “murahan”, tetapi bangga akan karya terbaik hasil kerja sendiri.

Ayo! Sudah saatnya, wujudkan Brand of Yourself dan jadilah bagian dari PERUBAHAN.

Persoalan Tak Terselesaikan

Dalam menyelesaikan suatu permasalahan tiap2 orang punya caranya sendiri-sendiri. Ada yang pake gaya santai, ada yang pake gaya penuh persiapan yang matang, ada yang sangat serius mengerjakan sampai-sampai melupakan hal2 lain. Tiap orang bebas memakai cara apapun yang penting permasalahan tersebut selesai dan tidak meresahkan orang lain.


Dalam hidup pasti kita pernah melakukan kesalahan, termasuk saat tidak mengerjakan/ menyelesaikan tugas dengan baik. Hal tersebut bisa saja ada yang mengecewakan atau menyinggung perasaan orang lain. Tentunya ngga enak kan kalau mengalami hal itu. Saya sendiri pernah (sering!) merasakannya, dan perasaan itu sangat menggangu, bisa merusak mood seharian, kepikiran terus.. Menurut saya, persoalan yang belum terselesaikan harus segera diselesaikan biar bisa tenang buat ngelanjutin urusan yang lain.

Ini ada beberapa tips buat teman2 apabila menghadapi “Persoalan Tak Terselesaikan (PTT)” seperti diatas:
1. Harus berfikiran jernih, mungkin PTT itu bersumber dari kesalahan diri kita sendiri. Harus sering2 introspeksi. Jangan selalu mau menang sendiri, tanpa ngelihat persoalan secara keseluruhan. Awal mula PTT lalu membesar karena tiap individu yg terlibat didalamnya bertahan dengan pendapatnya sendiri, tidak ada yng mau mengalah.

2. Harus berani memimpin gerakan untuk memulai menyelesaikan PTT. Ketika suatu PTT dibiarkan maka akan mengakar dan menjalar kemana2, hasilnya kecurigaan satu sama lain, kurangnya kepercayaan satu sama lain, dll. terutama menyebabkan tidak tenang dan tidak pede ketika berurusan dengan orang yang tersangkut PTT itu. Cepat ambil tindakan, cepat memutuskan untuk memulai bergerak, semakin cepat PTT diselesaikan maka semakin baik.

3. Segera minta maaf bila melakukan kesalahan, apalagi bila mengecewakan/ menyinggung perasaan orang lain. Segala perbuatan baik dimasa lalu (dan dimasa datang), bisa ilang dalam sekejap bila suatu saat melakukan satu hal bodoh, tapi itu dapat sedikit terobati bila kita segera meminta maaf.

Setiap orang pasti pernah berbuat kesalahan, mungkin juga ada yang punya PTT sampai sekarang, kita mungkin tidak menyadari pernah mengecewakan orang lain, kita manusia yang tidak luput dari kesalahan, kita manusia yang tidak sempurna. Namun, seharusnya kita mengurangi segala perbuatan buruk kita dimata org lain. Mulailah berbuat baik, dan teruslah melakukan itu.

Pakai prinsip 3M:
Mulai dari diri sendiri, Mulai dimana saja, Mulai saat ini.
God Bless You 🙂

Kalah Gaya? Mati Gaya? Pake Gaya Sendiri Aja!

Hari ini ialah Blog Mister Ade tepat berumur 4 bulan dan ternyata sudah mencapai angka +40 posting juga +4000 hits 🙂 Namun, saat ini semangat menulis sudah agak kendor mengingat jadwal KP dan persiapan ujian yang makin mendekat. Walaupun itu,, spesial untuk hari ini saya menyajikan tulisan yang juga spesial. 🙂

Kalah gaya? Mati gaya? Pake gaya sendiri aja! Ya sesuai dengan judul tulisannya.. Saya ingin membahas ketika kita menyadari merasa tidak nyaman berada di suatu tempat atau kondisi dikarenakan pembawaan kita sendiri yang berbeda dari kebanyakan orang disana. Kalah gaya atau mati gaya ini bisa terjadi karena kita tidak mempersiapkan terhadap suatu kejadian yang akan terjadi, atau kita tidak siap akan kejutan yang terjadi kemudian.

Kalah gaya atau mati gaya, ketika terjadinya pada kita, akan terasa sangat mengganggu bakhan lebih parahnya menciutkan nyali dan rasa percaya diri. Seseorang yang rasa percaya dirinya menciut kemungkinan akan berdampak menjadi dua hal, antara lain: (1) Penarikan diri dari lingkungan dan mencari lingkungan nyamannya atau (2) Terpacu untuk membalas dengan berjuang untuk diterima di lingkungan itu dengan segala cara. Saya sendiri saat ini ingin mencoba pada jalur kedua.

Ketika kita kalah gaya atau mati gaya, awalnya jangan lagsung ciut dulu, jangan langsung terbawa emosi. Tetapi hadapi dengan tenang dan tetap berfikiran jernih. Pertama-tama keadaan tersebut harus tetap dikendalikan dengan menantang balik orangnya. Misal: “Ini gaya gw, gw pake gaya gw sendiri bebas dong!” Setelah keadaan agak terkendali kita mencoba melihat sekitar apakah gaya kita memang menunjukkan ketidaksiapan maka harus berbesar hati untuk berubah dan mencoba beradaptasi pelan-pelan. Ketika kita sudah dapat menguasai keadaan maka jangan sombong dan berbesar diri, kita harus tetap tenang, mengendalikan diri, dan mengingatkan yang lainnya.

Awal dari suatu keadaan kalah gaya, mati gaya, dikarenakan sikap dan pemikiran kita pada diri kita sendiri. Pupuklah selalu rasa percaya yang tinggi pada diri sendiri, selain itu dibutuhkan juga ketenangan dan pengendalian diri yang baik.

Oiya.. Terakhir: Ini gaya-Ku! Kamu? 😉

Added Value

Waktu kehidupan terus berjalan, tanpa sadar, kita tahu-tahu sudah bertambah umur, tapi apakah itu seiring dengan bertambahnya kedewasaan, keilmuan, skill, maupun kebaikan diri?

*********************************************************************************************

Seringkali kita tidak menyadari pertambahan apa yang kita punya selama berjalannya umur, padahal kita sangat menyadari pertambahan umur. Misalnya seorang anak sekolah yang berkata kepada temannya, “Ngga terasa ya waktu berjalan, tiba2 udah kelas 3 SMA aja, bentar lagi UN, tapi belum ada persiapan apa2.

Sesuatu hal tersebut ialah “Added Value” yang jika di Indonesiakan artinya Nilai Tambah. Nilai tambah berbeda-beda pada setiap orang tergantung bagamana ia memandang dirinya sendiri dan bagaimana orang lain memandang dirinya. Nilai Tambah itulah yang membedakan kelincahan dan pergaulan setiap manusia. Bagi yang memiliki nilai tambah yang mumpuni, lebih menguasai suatu permasalahan, sehingga ia pun mudah menyelesaikannya.

*********************************************************************************************

Suatu saat saya berkumpul bersama teman-teman SMA. Sudah lama sekali saya tidak bertemu mereka, sekitar 6 tahunan. Saya sendiri ingin datang pada suatu reuni SMA kami karena saya ingin membandingkan diri saya dengan teman, selain ingin membuka wawasan dengan melihat perkembangan kehidupan luar. Kemarin saya merasa seakan tidak ada perubahan apa-apa yang terlihat pada mereka, tetap sama seperti yang saya kenal saat SMA, cuma beberapa saja yang benar-benar berubah. Saya merasa mungkin mereka juga ingin “membaca kekuatan” saja dulu, jadi tidak ingin terlalu show over.

Syahrini (Dulu)


Syahrini (Sekarang)

Nilai tambah walaupun dapat tergantung bakat, hal itu bisa dipelajari. beberapa orang menyesuaikan nilai tambah diri dengan visi hidup. Misal visi hidup saya ingin membangun dan mengurusi apotek sendiri. Oleh karena itu saya harus mengembangkan nilai tambah yang berkaitan, seperti keilmuan kefarmasian, skill kefarmasian di apotek, manajemen apotek, membangun jaringan pertemanan, dll. Nilai tambah tersebut akan sangat mendukung keberhasilan pencapaian visi hidup.

*********************************************************************************************

Menurut saya setidaknya ada beberapa nilai tambah yang minimal dimiliki seorang muda Indonesia dalam perjuangannya meraih keberhasilan hidup, antara lain:
1. Keimanan dan ketaqwaan dalam beragama
2. Fokus dalam keilmuan di bidangnya
3. Skill kehidupan
4. Kepandaian dalam pergaulan
5. Kepedulian terhadap sesama dan lingkungan

Lima poin itu masih sangat umum ya, itu juga kan yang sering diulang2 di buku agama atau PPKn dulu pas jaman SD. Untuk para pembaca Blog Mister Ade, saya akan beberkan lebih dalam, antara lain:

1. Keimanan dan ketaqwaan dalam beragama
Dengan meningkatkan kegiatan spiritual dan hubungan dengan Tuhan, kita akan merasa lebih tenang dan mendapat kedamaian hati. selain meningkatkan penyadaran dan kedewasaan diri. Nilai tambahnya dapat berupa dengan lebih sering berdoa, membaca kitab suci, mengingatkan sesama yang lain, dll.

2. Fokus dalam keilmuan di bidangnya
Dengan fokus kita akan lebih ahli dalam bidang yang dipelajari dan lebih mudah menguasai. Kita pun akan terbentuk image atau pencitraan diri akan bidang tersebut. Nilai tambahnya dapat berupa dengan lebih menyisihkan waktu lebih banyak untuk belajar, membaca buku2, bertanya pada ahli, menempuh pendidikan yang lebih tinggi, dll.

Ariel (dulu)


Ariel (Sekarang)

3. Skill kehidupan
Banyak sekali skill kehidupan. Contoh kecil saja memasak nasi, makanan utama orang Indonesia, tetapi banyak diantara kita yang belum tau caranya, atau mengendarai kendaraan bermotor, dll. Untuk yang satu ini saya merasa mendapatkan nilai tambah dari teman2 saya di kampus yaitu skill “lebay”. Lebay itu diatikan mengerjakan sesuatu lebih dari yang diminta. Skill ini tidak didapatkan di tempat lain tetapi mengakar dalam diri tiap orang-orang yang hidup didalamnya. Sedikit saja orang yang memiliki skill tersebut.

Olga (Dulu Lelaki Sejati)


Olga (Sekarang Lelaki Banci) Hahahaha

4. Kepandaian dalam pergaulan
Dengan pandai bergaul kita akan mempunyai banyak teman. kenapa baik jika mempunyai banyak teman? karena dapat memberi inspirasi pada kita akan kehidupan, pengalaman dari seorang teman ialah sangat berharga bagi diri sendiri. Nilai tambahnya dapat berupa dengan lebih memperhatikan penampilan, menjaga emosi diri, menambah jaringan pertemanan, dll

Sherina (Dulu)


Sherina (Sekarang)

5. Kepedulian terhadap sesama dan lingkungan
Dengan lebih peduli akan keadaan sekitar kita menjadi lebih menyadari arti kehidupan. Nilai tambahnya dapat berupa mengajak yang lain untuk lebih menjaga lingkungan, meningkatkan rasa kebersamaan, kebersihan dan kesehatan lebih baik, dll.

Nilai tambah tidak memiliki ukuran yang pasti. Kita dituntut untuk selalu ingin mencari tahu, selalu menggali lebih dalam. Bahkan seorang profesor saja masih ingin selalu belajar. Hal ini dikarenakan perkembangan keilmuan saat ini yang serba cepat dan dalam model persaingan, siapa lebih unggul dialah yang mendapat kesempatan.

*******************************************************************************************************

Visi Tanpa Fondasi

Visi tanpa fondasi itu seperti:
piramida terbalik,
menara tanpa dasar yang kuat,
remaja labil,
mobil tanpa bensin,
pembangunan tanpa pekerja,
peneliti tanpa konsep,
laporan tanpa dasar teori,
sayur tanpa garam,
rumah yang dibangun di atas lumpur
dll..

Mengapa fondasi begitu penting dalam hidup?
Suatu angin badai sewaktu2 dapat datang menerpa, namun rumah dengan fondasi yang kokoh tidak akan hancur oleh badai tersebut.

Seorang muda memiliki impian dan cita2 yang besar, namun apabila tidak memiliki fondasi yang kuat ia pun bisa terjungkal di tengah perjalanan dan impian menjadi buyar (ingat Ariel Peterpan yang hancur karirnya karna wanita).

Bagaimana seharusnya menjalani Hidup bervisi? Seberapa pentingnya Fondasi?
Visi yang baik seharusnya ditopang dengan fondasi yang kokoh.
Adanya fondasi membuat pembangunan dan perjalanan visi jadi lebih baik.
Suatu fondasi yang baik haruslah yang kuat dan berdasar kokoh.

Suatu visi bisa dimulai dari kecil saja, dimulai dari visi jangka pendek. yang perlu harus dibangun dan dijaga setiap waktu ialah dasar kekuatannya.
Dasar kekuatan itu biasa disebut skill, doa, ilmu, sikap, kerajinan, dll.

Apa jenis fondasi yang baik dalam membangun visi dan menjalani hidup?
Beberapa jenis fondasi antara lain: keimanan kepada Tuhan, kerajinan menambah ilmu, kerajian berlatih, kepedulian terhadap sesama, attitude yang baik, berteman dengan baik, profesional dalam bekerja, dll.

*******************************************************************************************************

Ketika engkau belum menyadari keutuhan hidupmu dan bergunanya hidup, maka bertemanlah dengan kebaikan, itu akan menentramkan hatimu dan menjauhkan hidupmu kedepan dari perbuatan jahat.

Ketika engkau telah menyadari hidupmu kedepan dan memulai hidup bervisi, namun ditengah jalan engkau tidak kuat menjalaninya, jangan putus asa dan berdoalah kepada-Nya agar diberi iman yang kuat untuk menjalaninya. Atas kehendak-Nya lah Engkau akan di beri jalan.

Ketika engkau telah menyadari hidupmu kedepan dan berhasil dalam hidup bervisi, tetaplah berbuat demikian kepada semua orang dan tetaplah tegar seperti batu karang. Ingatkan sesama yang lain agar tetap berada di dalam jalan kebenaran.

Jangan Takut bila Engkau sedang berada dalam Jalan Kebenaran.

*******************************************************************************************************

Menyelesaikan dari Perkara Kecil

Siapa pun yang melakukan Re-code hendaknya selalu mengingat nasihat orang tua kita zaman dahulu berikut ini; “Mustahil seseorang dipercaya menangani perkara-perkara besar kalau menangani perkara kecil saja tidak bisa.”Saya pikir nasihat ini sungguh luar biasa. Maka selalu tengoklah hal-hal kecil, seperti toilet, ruang tamu, tempat sampah, keset di ruang tamu, dan sebagainya. Kalau saja seorang manager atau kepala suatu lembaga mengabaikan hal-hal kecil seperti ini maka jangan terlalu percaya bahwa mereka mampu menangani kebijakan-kebijakan strategis. Memang benar. Perubahan harus dimulai dari hal-hal kecil.

Anda bisa saja berkilah, bukankah urusan pemimpin sangat kompleks? Tugas pemimpin bukan mengurus toilet dan sampah! Benarkah demikian? Mungkin Anda benar, tetapi studi-studi mengenai perilaku manusia ternyata mengatakan lain: “Apa yang kita lakukan di rumah akan tercermin di luar. Dengan kata lain pemimpin besar adalah pemimpin yang menaruh perhatian pada detail.” Dan ternyata, orang-orang yang keadaan rumahnya tidak tertata ternyata tidak bisa mengurus pekerjaannya dengan baik.

Saya menyebut ini sebagai “buang sampah”. Cobalah buang sampah sembarangan di salah satu sudut pekarangan kantor Anda, dan jangan izinkan petugas pembersih atau pesuruh Anda untuk mengangkatnya, beberapa hari saja. Dalam waktu dua hari Anda pasti sudah menyaksikan disana sampah Anda sudah mempunyai beberapa teman berupa kertas, tisu bekas, puntung rokok, tas plastik, kulit pisang, dan sebagainya. Dalam seminggu jumlahnya semakin banyak, dan seterusnya. Suatu keadaan yang kotor, kalau tidak segera dibereskan akan mengundang kotoran-kotoran lainnya. Dan lama-lama Anda akan frustasi, Anda butuh energi besar untuk membersihkannya. Sebab yang harus Anda bersihkan bukan saja sampah itu, melainkan juga kebiasaan orang-orang membuang kotoran disana. Hari ini Anda bersihkan, besok sudah ada sampah baru lagi, entah siapa yang membuangnya. Anda angkat dan tulis pengumuman dilarang membuang sampah toh sama saja.

Saya juga menyebut perilaku ini sebagai “suara gaduh” yang kasusnya agak mirip. Suara gaduh dan bising di suatu tempat biasanya beranjak dari suara samar-samar beberapa orang. Hal ini dapat terjadi di ruang-ruang kelas pada saat seorang guru yang tidak berwibawa sama sekali tengah mengajar. Kalau bapak atau ibu guru mendiamkan satu/dua orang muridnya berbicara, yang lain akan ikut berbicara, lama-lama kelas pun akan menjadi gaduh. Seperti penyakit menular, perilaku memang cepat merambat pada orang lain. Semua anak berbicara satu dengan lainnya, dan suara mereka makin berisik, sampai tiba-tiba pak guru terkejut kelasnya didatangi oleh guru dari kelas sebelah yang complain karena merasa terganggu oleh suara murid murid di kelasnya yang mulai terdengar sampai di sebelah.

Dengan kata lain karena pak guru tidak bisa menangani dan tidak mau perduli dengan obrolan bersuara halus dari satu/dua orang anak di kelasnya, maka lama-lama ia tidak mampu menangani kegaduhan di kelasnya. Sama saja dengan masalah sampah tadi, selama kita membiarkan sampah berceceran, maka ruangan akan menjelma menjadi tempat sampah.

Mungkin Anda masih berfikir suara gaduh dan masalah sampah adalah masalah sepele yang tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah strategis di negeri ini. Saya merasa perlu meluruskan pandangan-pandangan itu. Mari kita lihat studi yang dilakukan oleh kriminolog George L. Kelling dan Catherine M. Coles (1996) yang belakangan dikenal dengan teori Broken Window. Aplikasi konsep ini dilakukan dalam upaya perubahan yang dipimpin oleh walikota New York, Rudolph Giuliani pada tahun 1994 untuk membasmi kriminalitas. Banyak orang percaya, New York berubah di tangan sang walikota yang kharismatis. Keliru! New York diubah oleh pemimpin-pemimpin unit yang ternyata menerapkan Teori Broken Window.

Lantas apa yang dimaksud dengan Teori Broken Window? Kelling dan Coles adalah dua orang ahli kriminalitas (kriminolog). Lewat studinya, mereka berdua menyimpulkan: Kriminalitas terjadi sebagai akibat (yang tak terelakkan) dari adanya ketidakteraturan. Semua itu bermula dari, sebut saja, adanya jendela yang kacanya pecah di suatu pemukiman. Jendela yang pecah (broken window) yang didiamkan oleh pemiliknya akan mendorong para pelaku kriminal lain untuk memecahkan kaca jendela lainnya.

Kaca Pecah 1

The Broken Window

Broken Windows Meluas

Mengapa demikian? Gladwell dalam bukunya yang berjudul Tipping Point menjelaskan: Jendela pecah yang tidak diperbaiki telah menimbulkan kesan ketidakperdulian, sehingga dalam waktu dekat akan ada lagi jendela yang kacanya pecah, yang disusul dengan vandalisme dan keonaran-keonaran. Sebuah peristiwa kecil yang didiamkan telah memicu datangnya wabah yang menyulitkan banyak orang.

Sumber: Rhenald Kasali, Recode Your Change DNA

The Broken Windows

Sepotong artikel dari buku Recode Your Change DNA karangan Prof. Rhenald Kasali..
Aplikasi dari Teori The Broken Windows

Kisah David Gunn dan William Bratton Membasmi Kejahatan di Kereta Bawah Tanah di New York

New York di awal 1980-an adalah kota yang sungguh menyeramkan. Di kota ini hampir setiap hari selalu ditemui korban penodongan, pembunuhan, dan pemerasan oleh anggota geng. Begitu terkenalnya, sampai-sampai kepada setiap mahasiswa asing yang berkunjung ke kota ini, para mentor selalu mengingatkan agar mahasiswa mengantongi minimal $5 yang pasti diminta oleh para pemeras. Dan kalau diminta, lebih baik diberikan saja dari pada nyawa melayang. Demikian saran mereka.

Bayangkan setiap tahun ada sekitar 2.000 orang yang menjadi korban pembunuhan. Sebagian besar korbannya, konon orang-orang asing yang sedang berjalan sendirian. Di luar itu, ada lebih dari 600.000 orang yang melaporkan mengalami tindak kekerasan serius setiap tahunnya. Tapi seperti biasa laporan-laporan itu tidak bisa ditindaklanjuti. Polisi tidak berdaya dan hukum impoten.

Menarik disimak di New York ada dua orang tokoh menganut Teori Broken Window yang berambisi melakukan Change! Mereka melihat kejahatan di kereta api sebagai jendela untuk memberantas kriminalitas besar-besaran.

Kedua orang itu adalah David Gunn yang pada tahun 1980-an diangkat menjadi Direktur urusan kereta api (subway) dan Willian Bratton, komandan keamanan kereta api. Mereka melihat angka kejahatan di kereta subway sudah sangat merisaukan. Sudah terlalu banyak orang yang terus menjadi korban pemalakan. Lama-lama bukan cuma pemerasan. Orang-orang kulit hitam anggota geng bahkan mulai berani menjadi pemungut uang tiket yang mesin-mesin pembelian tiketnya telah mereka rusak. Selain itu ribuan orang setiap hari mulai berani mengelabui petugas sehingga tidak membeli tiket. Total kerugian semakin hari semakin besar. Persis seperti masalah kereta api di Indonesia.

Mereka berdua sepakat memulai pekerjaan besar itu dari hal-hal kecil, yaitu aksi corat-coret (vandalisme). Tentu saja ketika memulainya banyak orang yang meragukan David Gunn. Masa membenahi perkeretaapian dengan memberantas vandalisme? Apa tidak ada konsep yang lebih hebat? Mengapa tidak pakai sistem saja? Semua orang merasa cara itu kurang tepat. Tapi Gunn dan Bratton tidak melihat demikian.

Bagi mereka, kalau vandalisme berhasil diatasi, maka yang lain akan menyusul. Sedangkan yang lainnya melihat hal ini kurang heroik. Tapi mereka jalan terus. Sebuah rute mereka pilih dan di ujung jalan itu mereka membangun pos pembersihan. Begitu ditemukan sebuah kereta menjadi korban vandalisme, maka ia harus segera dibersihkan di pos itu. Kereta yang sudah bersih dijaga sepanjang waktu. Gerbong kotor tidak boleh dicampur dengan gerbong-gerbong yang bersih. Gunn tahu persis para preman butuh waktu 3 hari untuk mencorat-coret. Hari pertama mereka memberi cat dasar. Hari kedua memasang pola, dan hari ketiga mereka mulai mencorat-coret.

Mereka dibiarkan mengisi tiga hari itu sampai corat-coret itu menjadi kenyataan. Tetapi begitu jadi, hai itu juga dibersihkan sehingga jejak mereka belum sempat dilihat orang. Pesan yang hendak disampaikan sangat jelas: vandalisme tidak ada tepatnya lagi disini, dan pekerjaan itu akan sia-sia. Mereka tentu marah sekali. Tapi sejak itu vandalism pun berakhir.

Graffiti Train (Vandalisme)

Vandalis di Kereta

Bersamaan dengan itu, fasilitas kereta api mereka perbaiki. William Bratton segera memimpin pemberantasan kebiasaan naik kereta tanpa karcis. Bagi mereka, naik tanpa karcis adalah ketidakteraturan yang menjadi sumber kriminalitas. Orang-orang yang ditangkap langsung diborgol, dan disuruh berdiri di depan loket sambil menunggu tangkapan-tangkapan yang lain sehingga menjadi tontonan masyarakat. Berjam-jam mereka di sana, sebelum digiring ke kantor polisi dan dibebaskan. Mereka memang dibebaskan, tetapi sebelum itu mereka harus dipermalukan dulu dan dicatat datanya oleh petugas polisi selama berjam-jam.

Belakangan diketahui, satu dari sepuluh orang yang tak membayar karcis selalu ditemui punya kecenderungan kriminal. Ada yang membawa senjata tajam, obeng, atau narkoba, dan sebagian punya catatan kejahatan. Polisi jadi bersemangat. Sebab disitu mereka menemukan penjahat-penjahat yang sedang mereka cari: pembunuh, pencuri, pemadat, pelanggar hukum, pemerkosa, pengedar uang palsu, penodong, dan sebagainya.

Pada tahun 1994, saat Giuliani terpilih sebagai walikota, Bratton diangkat menjadi kepala polisi di kota itu. Ia tetap konsisten memberantas kejahatan-kejahatan kecil sampai ke akarnya. Kalau hal ini dilakukan di sini, saya tidak dapat membayangkan betapa Bratton akan mendapat tantangan yang luar biasa. Wartawan, tokoh-tokoh politik, LSM, dan orang-orang pintar lainnya pasti akan memanfaatkan momentum ini untuk tampil secara heroik. Mereka akan berpura-pura menjadi penyelamat negeri ini dengan membela penjahat-penjahat kelas teri atau rakyat kecil. Mereka akan mengatakan demikian: “Penjahat kakap, penilep uang BLBI milyaran rupiah tidak diburu, tetapi maling ayam dikejar-kejar. Sebaiknya polisi mengejar mereka dulu, dan membebaskan rakyat kecil yang sudah susah dari teror kehidupan.

Tapi kalau mereka berhadapan dengan Bratton mereka akan menerima serangan balik. Bagi Bratton dan para penganut Teori Broken Window atau Teori Suara Gaduh, mustahil kita bisa meberantas kejahatan kalau kejahatan-kejahatan kecil kita biarkan. Bagi mereka, setiap kejadian kecil cuma merupakan awal saja bagi kejahatan besar. Bratton dan Gunn terbukti benar. Angka kejahatan pada tahun 1996 merosot 75% dibandingkan 10 tahun sebelumnya, dan orang merasa lebih aman berjalan di New York. Mereka telah membangun suatu keteraturan baru.

Kereta Api Sekarang (Bersih)

World Best Subways (New York)

*************************************************************************************
Disadur dari buku Tipping Point, karangan Malcolm Gladwell.
Sumber: Rhenald Kasali, Recode Your Change DNA

*************************************************************************************

Jangan Melihat dari Sudut Pandang Sempit

Pengen Share cerita ini karena pesan moralnya bagus, kena bgt sama saya.
Baca tulisannya dari blog Dosen Informatika ITB: Rinaldi Munir

Semoga Bermanfaat..

****************************************************************************************************

Apa yang Telah Kau Lakukan, Istriku?

Suatu hari seorang suami pulang kerja dan mendapati tiga orang anaknya sedang berada di depan rumah. Semuanya bermain lumpur, dan masih memakai pakaian tidur. Berarti semenjak bangun tidur, mereka belum mandi dan belum berganti pakaian

Sang suami melangkah menuju rumah lebih jauh. Ternyata … kotak-kotak bekas bungkus makanan tersebar di mana-mana. Kertas-kertas bungkus dan plastik bertebaran tidak karuan,dan… pintu rumah bagian depan dalam keadaan terbuka.

Begitu ia melewati pintu dan memasuki rumah… masyaAllah… kacau… berantakan. Ada lampu yang pecah, ada sajjadah yang tertempel dengan permen karet di dinding. Televisi dalam keadaan on dan dengan volume maksimal.Boneka bertebaran di mana-mana. Pakaian acak-acakan tidak karuan menyebar ke seluruh penjuru ruangan.

Dapur? Ooooh tempat cucian piring penuh dengan piring kotor. Sisa makanan pagi masih ada di atas meja makan. Pintu kulkas terbuka lebar. Sang suami mencoba melihat lantai atas. Ia langkahi boneka-boneka yang berserakan itu. Ia injak-injak pula pakaian yang berserakan tersebut. Maksudnya adalah hendak mendapatkan istrinya, siapa tahu ada masalah serius dengannya.

Pertama sekali ia dikejutkan oleh air yang meluber dari kamar mandi, semua handuk berada di atas lantai dan basah kuyup. Sabun telah berubah menjadi buih. Tisu kamar mandi sudah tidak karuan rupa, bentuk dan tempatnya. Cermin penuh dengan coretan-coretan odol, dan… begitu ia melompat ke kamar tidur, ia dapati istrinya sedang tiduran sambil membaca komik!!!

Melihat kepanikan sang suami, sang istri memandang kepadanya dengan tersenyum. Dengan penuh keheranan sang suami bertanya, “Apa yang terjadi hari ini wahai istriku?!!”.

Sekali lagi sang istri tersenyum seraya berkata,“Bukankah setiap kali pulang kerja engkau bertanya dengan penuh ketidak puasan, ‘Apa sih yang kamu kerjakan hari ini wahai istriku?’, bukankah begitu wahai suamiku tersayang?!”

“Betul” jawab sang suami.

“Baik” kata sang istri, “hari ini, aku tidak melakukan apa yang biasanya aku lakukan”.

*********************************************************************************************************

Pesan yang ingin disampaikan adalah:

1. Penting sekali semua orang memahami, betapa orang lain mati-matian dalam menyelesaikan pekerjaannya, dan betapa besar pengorbanan yang telah dilakukan oleh orang lain itu agar kehidupan ini tetap berimbang, berimbang antara MENGAMBIL dan MEMBERI, TAKE and GIVE.

2. Dan … agar tidak ada yang mengira bahwa dialah satu-satunya orang yang habis-habisan dalam berkorban, menanggung derita, menghadapi kesulitan dan masalah serta menyelesaikannya.

3. Dan … jangan dikira bahwa orang-orang yang ada di sekelilingnya, yang tampaknya santai, diam, dan enak-enakan … jangan dikira bahwa mereka tidak mempunyai andil apa-apa.

4. Oleh karena itu, HARGAILAH JERIH PAYAH DAN KIPRAH ORANG LAIN dan JANGAN MELIHAT DARI SUDUT PANDANG YANG SEMPIT.

*********************************************************************************************************

Sumber: Musyaffa AR

Anti Visi (Bergerak atau Mati!)

Terlalu banyak visi bisa buat tertekan, terlalu banyak visi buat kita jadi terus2an menghayal, tenggelam dalam mimpi dan khayalan kosong. Memang semuanya butuh tujuan akhir, tapi yang lebih penting ialah proses, tapi sebenarnya ada yang lebih penting lagi dari proses. Hal yang sangat penting yang harus jadi prioritas utama dalam hidup.

Apa itu? Execution! Buat aksi nyata! Bergerak atau mati! Ambil langkah pertama dan jangan banyak bicara. Lakukan saja dulu, masalah hasil atau prosesnya, itu soal nanti.

Visi itu bekerja dari sudut pandang akhir lalu mulai dari depan. Dengan visi kita melihat dari akhir lalu kembali dari awal menyusun langkah2 untuk mencapai tujuan akhir itu. Terakhir tinggal melakukan setiap prosesnya dengan baik. Namun, terdapat beberapa kelemahan konsep visi, antara lain:

1. Terlalu banyak pemikiran dan ide yang berputar di otak, terlalu banyak keinginan yang ingin di raih. Akhirnya bingung untuk menentukan visi mana yang harus dilaksanakan duluan

2. Perencanaan yang dibuat terlalu idealis, tidak sinkron dengan kondisi nyata di lapangan

3. Terlalu banyak energi negatif di lingkungan, kurang dorongan. Apalagi konsep visi ini juga bertujuan untuk memberi dorongan ke teman. Malah didorong balik, dan hasilnya terjungkal.

4. Kurang aksi nyata, terlalu banyak pemikiran dan terlalu fokus dalam mencapai visi.

5. Kurang kepedulian terhadap lingkungan, terlalu serius mengejar visi sampai2 tidak memperhatikan adanya perubahan yang terjadi bahkan di lingkungan terdekatnya sendiri.

Anti visi bekerja dari sudut pandang awal dan memang segala sesuatu bermula dari depan ke belakang, kita tidak pernah tau apa yang akan terjadi setelahnya. Yang perlu kita siapkan ialah kesiapan untuk menghadapinya. Berani bergerak untuk memulai langkah pertama, bermula dari modal nekat dan keberanian saja. 🙂

Bergeraklah dan buat suatu gerakan nyata, bukan hanya diam saja menunggu waktu yang tepat. Masalah bagus atau tidaknya hasil itu soal nanti, yang penting jalan dulu. Para penganut anti visi berpandangan bahwa bila terlalu berfikir lama bisa2 kesempatan yang ada di depan mata itu bisa diambil sama orang2 lain. Kehilangan kesempatan,, bahkan oleh orang yang kurang oke. (Huahahaha.. Damn!!)

Bagi para penganut anti visi beranggapan satu tindakan yang mereka buat itulah yang beri perbedaan yang sangat besar. Itu bisa merubah segalanya. Bisa jadi setelah langkah pertamanya ia mendapatkan kejutan yang besar, bahkan sesuatu yang tidak pernah ia sangka sebelumnya. (That’s nice!!)

*****************************************************************************************************************************

Bergerak sekarang atau mati, semangat sekarang atau mati, buat keputusan sekarang atau mati, melangkah sekarang atau mati. Otak semakin terpacu dan jadi semakin semangat, semangat yang mendorong untuk bertindak pada langkah selanjutnya.

Pokoknya.. Semangat harus tetap menyala!!

Hwoyy!! Ayo, Bangkit!!

*****************************************************************************************************************************