Menyelesaikan dari Perkara Kecil

Siapa pun yang melakukan Re-code hendaknya selalu mengingat nasihat orang tua kita zaman dahulu berikut ini; “Mustahil seseorang dipercaya menangani perkara-perkara besar kalau menangani perkara kecil saja tidak bisa.”Saya pikir nasihat ini sungguh luar biasa. Maka selalu tengoklah hal-hal kecil, seperti toilet, ruang tamu, tempat sampah, keset di ruang tamu, dan sebagainya. Kalau saja seorang manager atau kepala suatu lembaga mengabaikan hal-hal kecil seperti ini maka jangan terlalu percaya bahwa mereka mampu menangani kebijakan-kebijakan strategis. Memang benar. Perubahan harus dimulai dari hal-hal kecil.

Anda bisa saja berkilah, bukankah urusan pemimpin sangat kompleks? Tugas pemimpin bukan mengurus toilet dan sampah! Benarkah demikian? Mungkin Anda benar, tetapi studi-studi mengenai perilaku manusia ternyata mengatakan lain: “Apa yang kita lakukan di rumah akan tercermin di luar. Dengan kata lain pemimpin besar adalah pemimpin yang menaruh perhatian pada detail.” Dan ternyata, orang-orang yang keadaan rumahnya tidak tertata ternyata tidak bisa mengurus pekerjaannya dengan baik.

Saya menyebut ini sebagai “buang sampah”. Cobalah buang sampah sembarangan di salah satu sudut pekarangan kantor Anda, dan jangan izinkan petugas pembersih atau pesuruh Anda untuk mengangkatnya, beberapa hari saja. Dalam waktu dua hari Anda pasti sudah menyaksikan disana sampah Anda sudah mempunyai beberapa teman berupa kertas, tisu bekas, puntung rokok, tas plastik, kulit pisang, dan sebagainya. Dalam seminggu jumlahnya semakin banyak, dan seterusnya. Suatu keadaan yang kotor, kalau tidak segera dibereskan akan mengundang kotoran-kotoran lainnya. Dan lama-lama Anda akan frustasi, Anda butuh energi besar untuk membersihkannya. Sebab yang harus Anda bersihkan bukan saja sampah itu, melainkan juga kebiasaan orang-orang membuang kotoran disana. Hari ini Anda bersihkan, besok sudah ada sampah baru lagi, entah siapa yang membuangnya. Anda angkat dan tulis pengumuman dilarang membuang sampah toh sama saja.

Saya juga menyebut perilaku ini sebagai “suara gaduh” yang kasusnya agak mirip. Suara gaduh dan bising di suatu tempat biasanya beranjak dari suara samar-samar beberapa orang. Hal ini dapat terjadi di ruang-ruang kelas pada saat seorang guru yang tidak berwibawa sama sekali tengah mengajar. Kalau bapak atau ibu guru mendiamkan satu/dua orang muridnya berbicara, yang lain akan ikut berbicara, lama-lama kelas pun akan menjadi gaduh. Seperti penyakit menular, perilaku memang cepat merambat pada orang lain. Semua anak berbicara satu dengan lainnya, dan suara mereka makin berisik, sampai tiba-tiba pak guru terkejut kelasnya didatangi oleh guru dari kelas sebelah yang complain karena merasa terganggu oleh suara murid murid di kelasnya yang mulai terdengar sampai di sebelah.

Dengan kata lain karena pak guru tidak bisa menangani dan tidak mau perduli dengan obrolan bersuara halus dari satu/dua orang anak di kelasnya, maka lama-lama ia tidak mampu menangani kegaduhan di kelasnya. Sama saja dengan masalah sampah tadi, selama kita membiarkan sampah berceceran, maka ruangan akan menjelma menjadi tempat sampah.

Mungkin Anda masih berfikir suara gaduh dan masalah sampah adalah masalah sepele yang tidak ada hubungannya dengan masalah-masalah strategis di negeri ini. Saya merasa perlu meluruskan pandangan-pandangan itu. Mari kita lihat studi yang dilakukan oleh kriminolog George L. Kelling dan Catherine M. Coles (1996) yang belakangan dikenal dengan teori Broken Window. Aplikasi konsep ini dilakukan dalam upaya perubahan yang dipimpin oleh walikota New York, Rudolph Giuliani pada tahun 1994 untuk membasmi kriminalitas. Banyak orang percaya, New York berubah di tangan sang walikota yang kharismatis. Keliru! New York diubah oleh pemimpin-pemimpin unit yang ternyata menerapkan Teori Broken Window.

Lantas apa yang dimaksud dengan Teori Broken Window? Kelling dan Coles adalah dua orang ahli kriminalitas (kriminolog). Lewat studinya, mereka berdua menyimpulkan: Kriminalitas terjadi sebagai akibat (yang tak terelakkan) dari adanya ketidakteraturan. Semua itu bermula dari, sebut saja, adanya jendela yang kacanya pecah di suatu pemukiman. Jendela yang pecah (broken window) yang didiamkan oleh pemiliknya akan mendorong para pelaku kriminal lain untuk memecahkan kaca jendela lainnya.

Kaca Pecah 1

The Broken Window

Broken Windows Meluas

Mengapa demikian? Gladwell dalam bukunya yang berjudul Tipping Point menjelaskan: Jendela pecah yang tidak diperbaiki telah menimbulkan kesan ketidakperdulian, sehingga dalam waktu dekat akan ada lagi jendela yang kacanya pecah, yang disusul dengan vandalisme dan keonaran-keonaran. Sebuah peristiwa kecil yang didiamkan telah memicu datangnya wabah yang menyulitkan banyak orang.

Sumber: Rhenald Kasali, Recode Your Change DNA

About Mister Ade

Keluar dari zona nyaman

Posted on 04/06/2011, in Cerita Tentang Visi (Pandangan Hidup), Inspirasi Mereka. Bookmark the permalink. 5 Comments.

  1. Inspirasi yg sangat bagus, coba mulai kita terapkan dari hal-hal kecil di dpn mata, di sekitar, di sakeliling kita, dan mudah2an bisa tertular juga pada orang lain. Trims.

    • Mister Ade

      Sip2..

      Tugas the agent of change pertama-tama harus bisa ngerubah diri sendiri dulu euy sebelum menginspirasi yg lain..

      Dan harus konsisten dan terus menerus..

      Doakan saya ya
      v(^_^)v
      (pake gaya Takeshi Castle.. hehe)

  2. Monika Oktora

    setujuu deuus.. tp gimana sama pendapat yg blng “don’t sweat the small stuffs” aku kadang2 tu ya suka fokus sama hal yg kecil2 gituu, tp jadi lupa sama hal yg sbnrnya lebih penting, hehehe…
    bgmn mr. amadeus ?

    • Mister Ade

      sama mon..
      gw suka ngerjain kayak gitu, bahkan asik bgt buat ngerjain hal2 kecil bgitu.. malah bisa ngabisin waktu banyak untuk hal yg kayak gitu, yg bisa dibilang kerjaan “ntah vava”.

      tentang 2 pendapat itu, menurutku 2 hal itu menjelaskan hal yang berbeda, kita harus bisa bedakan yg dimaksud “hal kecil” itu berdasarkan tingkat kepentingan dan prioritas.

      buat 4 kuadran: penting, tidak penting, prioritas, tidak prioritas
      nanti ketahuan, kegiatan mana yg termasuk kuadran tidak penting dan tidak prioritas, nah itulah kegiatan yg harus dihindari

      oiya 1 lagi. gw sering lho terkagum sama lu mon, lu tuh rajin bgt, misal ngerjain buku harian pas lagi jaga obat di RS 4dv3n+ kmaren. gw akhirnya jg ikut kebawa2 dgn kerajinan lu. tindakan yang bagi org lain mungkin menganggap hal itu “hal kecil” tetapi sebenernya itu hal besar. Jadi sejujurnya klo kita rajin, itu bisa mempengaruhi org lain jg untuk rajin dan yg paling penting menghilangkan sifat malas, penyakit kronis org Indonesia, sifat yg bikin bangsa kita susah maju.
      🙂

      • Monika Oktora

        hahahaha… kerjaan “ntah vava” istilahnyaaaa
        aseeekk aku dibilangin rajiinn jgn2 asosiasinya rajin = lebay
        tp yaa baguslah dee kalo efeknya jadi positif😀 senang, hehehe..
        semangat!! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: